Showing posts with label ramadhan. Show all posts
Showing posts with label ramadhan. Show all posts

Aug 18, 2010

Lima Perkara Perosak Hati

* Lima Perkara Perosak Hati *


Hati adalah pengendali. Jika ia baik, baik pula perbuatannya. Jika ia rosak, rosak pula perbuatannya. Maka menjaga hati dari kerosakan adalah perlu dan wajib. Tentang perosak hati, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan ada lima perkara, 'bergaul dengan banyak kalangan teman (baik dan buruk), angan-angan kosong, bergantung kepada selain Allah, kekenyangan dan banyak tidur.'


1. Bergaul dengan banyak kalangan

Pergaulan adalah perlu, tapi tidak asal bergaul dan banyak teman. Pergaulan yang salah akan menimbulkan masalah. Teman-teman yang buruk lambat laun akan menghitamkan hati, melemahkan dan menghilangkan rasa nurani, akan membuat yang bersangkutan larut dalam memenuhi berbagai keinginan mereka yang negatif. Dalam paparan kehidupan, kita sering menyaksikan orang yang hancur hidup dan kehidupannya gara-gara pergaulan. Biasanya output semacam ini, kerana motivasi bergaulnya untuk dunia. Dan memang, kehancuran manusia lebih banyak disebabkan oleh sesama manusia. Oleh sebab itu, kelak di akhirat, banyak yang menyesal berat kerana salah pergaulan. Allah berfirman:

"Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya seraya berkata, 'Aduhai (dulu) kiranya aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur'an ketika Al-Qur'an itu telah datang kepadaku." (Al-Furqan: 27-29).

"Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa." (Az-Zukhruf: 67).

"Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini, kemudian di hari Kiamat sebagian kamu mengingkari sebagian (yang lain) dan sebagian kamu melaknati sebagian (yang lain), dan tempat kembalimu adalah Neraka, dan sekali-kali tidak ada bagimu para penolong." (Al-Ankabut: 25).

Inilah pergaulan yang didasari oleh kesamaan tujuan duniawi. Mereka saling mencintai dan saling membantu jika ada hasil duniawi yang diingini. Jika telah lenyap kepentingan tersebut, maka pertemanan itu akan melahirkan duka dan penyesalan, cinta berubah menjadi saling membenci dan melaknat. Kerana itu, dalam bergaul, berteman dan berkumpul hendaknya ukuran yang dipakai adalah kebaikan. Lebih tinggi lagi tingkatannya jika motivasi pertemanan itu untuk mendapatkan kecintaan dan redha Allah.

2. Larut dalam angan-angan kosong

Angan-angan kosong adalah lautan tak bertepi. Ia adalah lautan tempat berlayarnya orang-orang tiada tujuan hidup. Bahkan dikatakan, angan-angan adalah modal orang-orang tak bertujuan. Ombak angan-angan terus mengombang-ambingkannya, khayalan-khayalan dusta senantiasa mempermainkannya. Laksana anjing yang sedang mempermainkan bangkai. Angan-angan kosong adalah kebiasaan orang yang berjiwa kerdil dan rendah. Masing-masing sesuai dengan yang diangankannya. Ada yang mengangankan menjadi raja atau ratu, ada yang ingin keliling dunia, ada yang ingin mendapatkan harta kekayaan melimpah, atau isteri yang cantik jelita. Tapi itu hanya angan-angan belaka. Adapun orang yang memiliki cita-cita tinggi dan mulia, maka cita-citanya adalah seputar ilmu, iman dan amal shalih yang mendekatkan dirinya kepada Allah. Dan ini adalah cita-cita terpuji. Adapun angan-angan kosong ia adalah tipu daya belaka. Nabi Sallallahu alaihi wasallam memuji orang yang bercita-cita terhadap kebaikan.

3. Bergantung kepada selain Allah

Ini adalah faktor terbesar perosak hati. Tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya dari bertawakkal dan bergantung kepada selain Allah. Jika seseorang bertawakkal kepada selain Allah maka Allah akan menyerahkan urusan orang tersebut kepada sesuatu yang ia bergantung kepadanya. Allah akan menghinakannya dan menjadikan perbuatannya sia-sia. Ia tidak akan mendapatkan sesuatu pun dari Allah, juga tidak dari makhluk yang ia bergantung kepadanya. Allah berfirman, ertinya:

"Dan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak, kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka." (Maryam: 81-82)

"Mereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah agar mereka mendapat pertolongan. Berhala-berhala itu tidak dapat menolong mereka, padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka." (Yasin: 74-75)

Maka orang yang paling hina adalah yang bergantung kepada selain Allah. Ia seperti orang yang berteduh dari panas dan hujan di bawah rumah laba-laba. Dan rumah laba-laba adalah rumah yang paling lemah dan rapuh. Lebih dari itu, secara umum, asal dan pangkal syirik adalah dibangun di atas ketergantungan kepada selain Allah. Orang yang melakukannya adalah orang hina dan nista. Allah berfirman, ertinya:

"Janganlah kamu adakan tuhan lain selain Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah)." (Al-Isra': 22)

Terkadang keadaan sebahagian manusia tertindas tapi terpuji, seperti mereka yang dipaksa dengan kebatilan. Sebahagian lagi terkadang tercela tapi menang, seperti mereka yang berkuasa secara batil. Sebahagian lagi terpuji dan menang, seperti mereka yang berkuasa dan berada dalam kebenaran. Adapun orang yang bergantung kepada selain Allah (musyrik) maka dia mendapatkan keadaan yang paling buruk dari empat keadaan manusia, yakni tidak terpuji dan tidak ada yang menolong.

4. Makanan Makanan perosak ada dua macam.

Pertama , merosak kerana zat/materinya, dan ia terbahagi menjadi dua macam. Yang diharamkan kerana hak Allah, seperti bangkai, darah, anjing, binatang buas yang bertaring dan burung yang berkuku tajam. Kedua, yang diharamkan kerana hak hamba, seperti barang curian, rampasan dan sesuatu yang diambil tanpa kerelaan pemiliknya, sama ada kerana paksaan, malu atau takut terhina. Kedua , merosak kerana melampaui ukuran dan takarannya. Seperti berlebihan dalam hal yang halal, kekenyangan melampaui batas. Sebab yang demikian itu membuatnya malas mengerjakan ketaatan, sibuk terus-menerus dengan urusan perut untuk memenuhi hawa nafsunya. Jika telah kekenyangan, maka ia merasa berat dan kerananya ia mudah mengikuti komando syaitan. Syaitan masuk ke dalam diri manusia melalui aliran darah. Puasa mempersempit aliran darah dan menyumbat jalannya syaitan. Sedangkan kekenyangan memperluas aliran darah dan membuat syaitan betah tinggal berlama-lama. Barangsiapa banyak makan dan minum, niscaya akan banyak tidur dan banyak merugi. Dalam sebuah hadits masyhur disebutkan:

"Tidaklah seorang anak Adam memenuhi bejana yang lebih buruk dari memenuhi perutnya (dengan makanan dan minuman). Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap (makanan) yang bisa menegakkan tulang rusuknya. Jika harus dilakukan, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga lagi untuk nafasnya." (HR. At-Tirmidzi, Ahmad dan Hakim, dishahihkan oleh Al-Albani).

5. Banyak tidur

Banyak tidur mematikan hati, memenatkan badan, menghabiskan waktu dan membuat lupa serta malas. Di antara tidur itu ada yang sangat dibenci, ada yang berbahaya dan sama sekali tidak bermanfaat. Sedangkan tidur yang paling bermanfaat adalah tidur saat sangat dibutuhkan. Segera tidur pada malam hari lebih baik dari tidur ketika sudah larut malam. Tidur pada tengah hari (tidur siang) lebih baik daripada tidur di pagi atau petang hari. Bahkan tidur pada petang dan pagi hari lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Di antara tidur yang dibenci adalah tidur antara solat Subuh dengan terbitnya matahari. Sebab ia adalah waktu yang sangat strategik. Kerana itu, meskipun para ahli ibadah telah melewatkan sepanjang malamnya untuk ibadah, mereka tidak mahu tidur pada waktu tersebut hingga matahari terbit. Sebab waktu itu adalah awal dan pintu siang, saat diturunkan dan dibagi-bagikannya rezeki, saat diberikannya barakah. Maka masa itu adalah masa yang strategik dan sangat menentukan masa-masa setelahnya. Oleh itu, tidur pada waktu itu hendaknya kerana benar-benar sangat terpaksa. Secara umum, saat tidur yang paling tepat dan bermanfaat adalah pada pertengahan pertama dari malam, serta pada seperenam bagian akhir malam, atau sekitar lapan jam. Dan itulah tidur yang baik menurut pada doktor. Jika lebih atau kurang daripadanya maka akan berpengaruh pada kebiasaan baiknya. Termasuk tidur yang tidak bermanfaat adalah tidur pada awal malam hari, setelah tenggelamnya matahari. Dan ia termasuk tidur yang dibenci Rasul Sallallahu 'alaihi wa sallam .

Qada' puasa, bayar fidyah dan ukuran cupak

Qada puasa adalah wajib ditunaikan terlebih dahulu sebelum datangnya bulan Ramadhan. Malah puasa sunat juga diharamkan untuk dikerjakan sebelum mengqada’ puasa yang tertinggal sebelumnya.

Sekiranya tidak berkesempatan, maka kita diwajibkan membayar fidyah. Fidyah bererti membayar denda berbentuk beras kepada fakir miskin.

Kadar fidyahnya mudah sahaja, iaitu sehari tinggal puasa bersamaan dengan fidyah secupak beras untuk tahun pertama. Tahun berikutnya digandakan mengikut tahun (lihat contoh mudah di hujung artikel ini).

Persoalan yang pertama, banyak mana sebenarnya ukuran secupak beras?



Secupak beras adalah bersamaan dengan 556 gram, iaitu lebih sedikit daripada setengah kilo, tetapi jauh lagi nak sampai satu kilo.

Dalam hal ini, satu perkara perlu diberi perhatian, iaitu membayar lebih tidak mengapa, membayar kurang jangan sekali.

Persoalan yang kedua, kepada siapa seelok-eloknya kita perlu membayar fidyah?

Ada pendapat yang mengatakan bayar fidyah lebih afdal terus kepada fakir miskin, daripada melalui amil yang dilantik.

Ada juga pendapat yang mengatakan bahawa lebih afdal membayar fidyah melalui amil, kerana amil telah dilantik dengan cara tertentu oleh pihak berkuasa. Tambahan pula, bukan senang hendak mencari fakir miskin di kawasan tempat tinggal kita.

Bagaimana pun menurut Imam Shafie, ikut mana-mana pendapat yang dirasakan sesuai kecuali apabila ditentukan oleh mufti negeri masing-masing. Dalam hal ini mufti wajib diutamakan.

Ini kerana kedudukan mufti negeri adalah yang tertinggi selepas sultan. Mufti negeri merupakan suara kepada sultan dalam bab agama. Oleh sebab itu, wajib dituruti.

Sebab itu dalam Islam, mufti tidak perlu menjadi terkenal. Seorang mufti adalah seorang yang senyap, tidak banyak berkata-kata, bersembang, dan sebagainya yang boleh menjatuhkan kredibiliti seorang yang berdarjat tinggi.

Kata seorang tokoh agama, seorang mufti tidak perlu ada blog, tidak perlu terlibat dalam politik, dan sebagainya seperti seorang hakim yang dilantik kerajaan.

Begitu juga keadaannya dengan Qadhi, yang kita lihat di zaman sekarang lebih banyak berpolitik, bersosial dan sebagainya yang mana sepatutnya kedudukan Qadhi adalah setaraf dengan hakim tadi.

Persoalan yang ketiga, berapakah nilai pendapatan yang boleh diklasifikasikan sebagai fakir miskin?

Nilai fakir sebenarnya boleh diukur begini. Ambil RM10 untuk buat pengukuran. Andaikan seseorang itu memerlukan RM10 sehari untuk perbelanjaan harian, termasuk diri sendiri dan tanggungan di bawahnya.

Sekiranya pendapatannya sehari cuma RM3. Maka dia adalah seorang fakir. Sekiranya pendapatannya RM7, maka dia adalah seorang yang miskin.

Sekiranya pendapatannya RM10, maka dia seorang yang sederhana. Sekiranya pendapatannya RM12, maka dia seorang yang berada. Sekiranya pendapatannya RM18, maka dia seorang yang kaya.

Begitulah ukuran yang mudah digunakan. Di manakah kedudukan anda?

Katakan anda perlu bayar rumah, kereta, tanah ladang, aset sana sini, kad kredit, pinjaman peribadi, dan sebagainya, yang mana baki akhir gaji anda menunjukkan bahawa anda hanya boleh berbelanja sebanyak RM3 sahaja dalam sehari.

Di mana kedudukan anda? Sudah pasti, anda bukan seorang fakir, kerana bukan nilai RM3 itu yang diambil kira, tetapi kesemua nilai yang menjadi hak anda seperti rumah, kereta, tanah ladang, dan aset.

Jika anda tidak cukup makan kerana bebanan ini, boleh jadi anda merupakan seorang yang boros atau tidak pandai merancang perbelanjaan. Nasihat saya, dapatkan seorang penasihat kewangan (kena bayar lagi).

Persoalan yang keempat, selepas bayar fidyah, adakah saya bebas dari hutang puasa?

Tidak, belum lagi. Puasa yang telah ditinggalkan itu tetap wajib diqada’ (diganti), dalam nisbah dan kadar yang sama, iaitu satu hari tertinggal bersamaan dengan satu hari qada’. Jumlah fidyah meningkat mengikut tahun, tetapi bilangan puasa tetap sama.

Habis, kenapa perlu bayar fidyah kalau tak bebas hutang? Bayar fidyah adalah kerana lewat mengqada’. Sama seperti konsep kad kredit, lewat bayar kena denda, tapi hutang lama masih perlu diselesaikan.

Persoalan yang kelima, apakah sebab selain lewat, yang mewajibkan kita wajib membayar fidyah?

Ibu mengandung yang tidak berpuasa kerana bimbang zat makanan anak di dalam kandungan, serta ibu yang menyusukan anak yang tidak berpuasa kerana bimbang kekurangan susu di dalam badan.

Keadaan ini berbeza dengan ibu mengandung yang menghadapi kesukaran atau risiko atau sebarang keuzuran syarie, di mana ibu itu hanya perlu mengqada’ sahaja tanpa perlu membayar fidyah.

Contoh mudah (seperti yang dinyatakan di awal artikel):

1.Tinggal puasa 1 hari tahun lepas, bayar 1 cupak.
2.Tinggal puasa 2 hari tahun lepas, bayar 2 cupak.
3.Tinggal puasa 1 hari 2 tahun lepas, bayar 2 cupak.
4.Tinggal puasa 2 hari 2 tahun lepas, bayar 4 cupak.
5.Tinggal puasa 1 hari tahun lepas dan 1 hari 2 tahun lepas, bayar 3 cupak.
6.Tinggal puasa 2 hari tahun lepas dan 1 hari 2 tahun lepas, bayar 4 cupak.
Kesimpulannya, darabkan jumlah hari dengan jumlah tahun lalu (berasingan mengikut tahun) dan kemudian tambahkan kesemua tahun-tahun ini, maka dapatlah jumlah cupaknya.

Mudah bukan? Kalau dapat, cuba kira bayaran fidyah yang wajib dibayar oleh seseorang yang tidak pernah berpuasa selama 40 puluh tahun hidup di atas muka bumi Allah ini… Huh?! Macam kena pakai formula jinjang arithmetik jer?

Pengikut